Lirik Ilahilastulil (Al-Itiraf) Syair Doa Abu Nuwas dan Maknanya

Lirik Ilahilastulil (Al-I'tiraf): Syair Doa Abu Nuwas dan Maknanya
Ilustrasi(freepik)

Syair Ilahilastulil atau yang dikenal dengan judul Al-I’tiraf (Pengakuan) merupakan salah satu munajat yang sangat populer di kalangan umat Muslim Indonesia. Syair ini sering kali dikumandangkan di masjid-masjid dan musala, khususnya pada jeda waktu antara azan dan ikamah, atau saat salat Jumat. Liriknya yang menyayat hati berisi pengakuan seorang hamba yang merasa penuh dosa, namun tidak sanggup menanggung siksa neraka.

Secara historis, syair ini dinisbatkan kepada Abu Nuwas (Abu Ali Al-Hasan bin Hani Al-Hakami), seorang penyair masyhur di era Kekhalifahan Abbasiyah. Meskipun dikenal dengan kisah-kisah humoris dan masa mudanya yang dekat dengan kehidupan duniawi, Abu Nuwas diyakini mengalami fase pertobatan yang mendalam di akhir hayatnya, yang kemudian melahirkan syair permohonan ampunan ini.

Lirik Lengkap Ilahilastulil (Arab, Latin, dan Terjemahan)

Bagi Anda yang ingin mengamalkan atau memahami maknanya secara utuh, berikut adalah teks lengkap syair Al-I’tiraf dalam bahasa Arab, transliterasi latin, serta terjemahannya:

Bait 1: Pengakuan Ketidaklayakan Masuk Surga

إِلَهِى لَسْتُ لِلْفِرْدَوْسِ أَهْلاً

Ilahii lastu lil firdausi ahlaa

وَلاَ أَقْوَى عَلَى نَارِ الْجَحِيْمِ

Walaa aqwaa ‘alaa naaril jahiimi

Artinya: “Wahai Tuhanku, aku bukanlah ahli surga Firdaus. Namun, aku juga tidak kuat menahan panasnya api neraka Jahanam.”

Bait 2: Permohonan Tobat dan Ampunan

فَهَبْ لِي تَوْبَةً وَاغْفِرْ ذُنُوْبِي

Fahab lii taubatan waghfir dzunuubii

فَإِنَّكَ غَافِرُ الذَّنْبِ الْعَظِيْمِ

Fa innaka ghaafirudz-dzanbil ‘azhiimi

Artinya: “Maka berilah aku tobat (ampunan) dan ampunilah dosa-dosaku. Sesungguhnya Engkau Maha Pengampun dosa-dosa yang besar.”

Bait 3: Dosa Sebanyak Butiran Pasir

ذُنُوْبِي مِثْلُ أَعْدَادِ الرِّمَالِ

Dzunuubii mitslu a’daadir-rimaali

فَهَبْ لِي تَوْبَةً يَا ذَا الْجَلاَلِ

Fahab lii taubatan yaa dzaal jalaali

Artinya: “Dosa-dosaku bagaikan bilangan butir pasir. Maka berilah aku tobat, wahai Zat Yang Maha Agung.”

Bait 4: Umur Berkurang, Dosa Bertambah

وَعُمْرِي نَاقِصٌ فِي كُلِّ يَوْمٍ

Wa ‘umrii naaqishun fii kulli yaumi

وَذَنْبِي زَائِدٌ كَيْفَ احْتِمَالِي

Wa dzanbi zaa-idun kaifah-timaali

Artinya: “Dan umurku berkurang di setiap harinya. Sedangkan dosaku terus bertambah, bagaimana aku menanggungnya?”

Bait 5: Bersujud Memohon Belas Kasih

إِلَهِى عَبْدُكَ الْعَاصِي أَتَاكَ

Ilahii ‘abdukal ‘aashii ataaka

مُقِرًّا بِالذُّنُوْبِ وَقَدْ دَعَاكَ

Muqirran bidz-dzunuubi wa qad da’aaka

Artinya: “Wahai Tuhanku, hamba-Mu yang bermaksiat ini telah datang kepada-Mu. Dengan mengakui segala dosa, dan sungguh telah memohon kepada-Mu.”

Bait 6: Harapan Terakhir

فَإِنْ تَغْفِرْ فَأَنْتَ لِذَاكَ أَهْلٌ

Fa in taghfir fa anta lidzaaka ahlun

وَإِنْ تَطْرُدْ فَمَنْ نَرْجُو سِوَاكَ

Wa in tathrud faman narjuu siwaaka

Artinya: “Jika Engkau mengampuni, maka Engkaulah yang berhak melakukan itu. Namun jika Engkau menolak, maka kepada siapa lagi kami berharap selain kepada Engkau?”

Syair Ilahilastulil mengajarkan kita tentang konsep tawâdhu’ (kerendahan hati) dan khauf (rasa takut) yang seimbang dengan raja’ (harapan). Dalam bait pertama, Abu Nuwas tidak dengan sombong meminta surga, karena ia sadar akan banyaknya dosa yang ia lakukan. Namun di sisi lain, ia secara jujur mengakui kelemahannya sebagai manusia yang tidak akan sanggup menahan pedihnya siksa neraka.

Sikap ini sejalan dengan ajaran Islam untuk senantiasa bertaubat dengan sungguh-sungguh atau Taubatan Nasuha, sebagaimana diperintahkan Allah SWT dalam Al-Qur’an. Hal ini relevan dengan firman Allah yang menyerukan orang-orang beriman untuk bertaubat, seperti yang tercantum dalam Surat At-Tahrim ayat 8.

Para ulama Sufi menilai syair ini sebagai bentuk diplomasi hamba kepada Tuhannya. Ia merayu Allah SWT bukan dengan amal ibadahnya, melainkan dengan pengakuan atas kelemahan dan dosa-dosanya, serta keyakinan mutlak bahwa Allah adalah Zat Yang Maha Pengampun (Al-Ghaffar).

Keutamaan Membaca Syair Al-I’tiraf

Meskipun bukan merupakan doa yang bersumber langsung dari hadis Nabi SAW (ma’tsur), para ulama memperbolehkan dan bahkan menganjurkan membaca syair-syair yang mengandung hikmah dan pujian kepada Allah. Beberapa keutamaan merenungi dan melantunkan syair ini antara lain:

  • Melembutkan Hati: Liriknya yang menyentuh membantu seorang Muslim untuk merenungi dosa-dosa yang telah lalu.
  • Mengingat Kematian: Mengingatkan kita bahwa umur terus berkurang sementara dosa mungkin bertambah.
  • Menumbuhkan Harapan: Menanamkan keyakinan bahwa sebesar apapun dosa, ampunan Allah jauh lebih besar.

Syair ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah, sebagaimana Allah juga mengingatkan hamba-Nya yang melampaui batas untuk tidak berputus asa, seperti yang tersirat dalam pesan-pesan pertobatan di Surat Az-Zumar.

[ad_2]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  • Scatter Hitam
  • Slot Gacor
  • Situs Slot Online
  • Slot Online
  • daftar slot gacor
  • deposit qris cepat
  • bonus new member 100
  • scatter hitam mahjong
  • pola zeus gacor 2
  • OLX707 daftar slot gacor
  • OLX707 situs slot terbaik
  • OLX707 akun slot resmi
  • Togel Online Indonesia
  • Bandar Toto
  • Situs Togel Terpercaya
  • Game Slot Gacor
  • Situs Slot Server Thailand
  • Situs Auto Cuan
  • Link Pusat Toto
  • Rtp Slot Gacor
  • Situs Slot Terlengkap
  • Daftar Slot Gacor
  • Bandar Slot Online
  • link bandar toto
  • olx707 link resmi
  • link slot hari ini
  • link situs bandar gacor
  • olx707 link resmi 2026
  • olx707 login daftar 2026
  • slot hari ini
  • link bandar slot
  • olx707 link resmi kami
  • daftar slot gacor
  • link Slot Mudah Maxwin